Daus Gonia || Cacatan Pribadi

  • Archive
  • RSS

Sebuah Ide Tentang Board Game Pembelajaran

Tulisan ini sebetulnya sudah pernah saya tulis di sebuah web portal komunitas guru Pojok Pendidikan, tapi terserah saya dong kalo pengen ditulis ulang disini. 

Game? Pada pernah main game kan? paling tidak hampir semua orang pernah main ular tangga ataupun sekedar tau. Sampai sekarang saya masih ingat kalo ular di ular tangga itu akan membuat rugi pemainnya karena turun beberapa kotak sedangkan tangga menguntungkan karena bisa mempercepat kita naik beberapa kotak. Dan saya ingat itu bukan karena dulu saat saya main ular tangga saya menghapalkan ular fungsinya apa dan tangga fungsinya apa. Saya ingat karena mungkin dulu saya terlalu sering maen game ini ataupun karena memang game ini menyenangkan.

 

Selain ular tangga, saya dulu main monopoli dan seperti halnya game ular tangga, game monopoli ini pun baik secara peraturan mainnya ataupun Afrika adalah negara paling mahal masih tersimpan secara jelas di ingatan. Saya main monopoli ketika SD, tepatnya kelas berapa saya kurang ingat. Tapi saya ingat betul karena game monopoli inilah saya pertama mengenal kata “Hipotik” dan kewajiban membayar pajak. Kebetulan waktu itu saya maen game ini dengan papah saya yang sekaligus menjelaskan pajak itu dan hipotik itu apa.

Entah karena kebetulan ataupun takdir, yang jelas merupakan sebuah keberuntungan bukan sesuatu yang sial, beberapa bulan yang lalu saya dan beberapa teman  dipertemukan dengan mas Eko Nugroho yang merupakan salah satu desainer board game di Bandung. Pertemuan saya dengan mas Eko merupakan sebuah dilema tersendiri sebetulnya, karena saya dan beberapa teman sebenarnya juga sering membuat game dan media pembelajaran, hanya saja yang kita buat adalah game dan media pembelajaran yang berbentuk digital. Sebelum bertemu dengan mas eko, alangkah nan jauh imajinasi untuk berpikir membuat sebuah board game untuk pembelajaran.

Dan di suatu malam dimana tidak ada bintang, *eh?. Iya, Ada sebuah malam dimana waktu itu saya tidak sengaja memikirkan tentang bagaimana caranya membuat sebuah board game yang bisa mengandung sebuah pembelajaran dan bisa dipergunakan sebagai media ajar di kelas. Pada saat saya memikirkan hal tersebut rupanya saya sedang naik motor dan akhirnya terlintas sebuah materi setelah saya terpaku selama beberapa detik melihat speedometer, materi “Jarak dan Kecepatan”.

Materi fisika, pikir saya waktu itu. Dan rumus s = v x t muncul setelah dengan susah payah saya berupaya mengingatnya dan itupun sebenarnya merupakan pertanggung jawaban saya terhadap diri sendiri karena pernah kuliah di jurusan fisika selama beberapa semester. Dan sebetulnya beberapa hari kemudian teman saya komentar “Kuliah 5 semester di jurusan fisika cuma inget itu aja?”, tapi lalu saya pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan tema pembicaraan menjadi tentang persidangan ariel peterpan .

Oke, balik lagi ke board game. Dari rumus s = v x t tersebut yang merupakan “Jarak sama dengan kecepatan di kali waktu”, saya nikahkan dengan sebuah ide cerita “Siswa yang pergi ke sekolah dengan jarak yang lumayan jauh menggunakan sepeda”.  Jarak ke sekolah tersebut merupakan gambaran dari S, kecepatan sepeda V, dan T adalah waktu tempuh. Saya buat sebuah jalan berliku-liku untuk menggambarkan S, dan beberapa kartu untuk mewakili V dan T. Cara bermainnya begitu sederhana, dimainkan oleh 4 orang yang mewakili siswa-siswa yang berangkat ke sekolah, dan siapa yang paling dulu sampai ke sekolah dia yang menang, dan untuk menempuh jarak tersebut menggunakan kartu V dan T. Untuk detail gamenya mungkin akan saya ceritakan pada tulisan tersendiri lagi nanti kalo game-nya sudah benar-benar selesai, mudah-mudahan secepatnya.

Mudah-mudahan dengan bermain game ini, siswa akan bisa mengingat terus tentang “jarak, kecepatan, dan waktu” dan lebih dari itu sebetulnya saya ingin memberikan alternatif pembelajaran yang menyenangkan.

Game ini sudah beberapa kali di testplay kan, baik kepada sedikit siswa, sedikit para aktivis pojokpendidikan juga kepada mas Eko yang menurut saya lebih tau tentang boardgame, dan wow banyak sekali yang harus di  perbaiki, terimakasih sarannya.

Saat testplay dengan aktivis pojokpendidikan Pak  Djadja Achmad Sardjana mengajukan sebuah pertanyaan menarik untuk saya “Bagaimana caranya terpikirkan ngebuat seperti ini dan darimana idenya ? ”, dan sungguh dengan sangat tidak menarik saya menjawab “Iseng pak, hehe”. Sebetulnya tulisan ini mungkin sedikit menjawab pertanyaan dari Pak Djadja, mungkin.

Saya bukan guru, saya juga bukan desainer board game, dan demi apapun saya tidak jago dalam hal matematika ataupun fisika. Saya pun yakin seyakin-yakinnya  teman-teman ataupun bapak-bapak dan ibu-ibu guru disini punya ide yang lebih baik, cemerlang, dan lebih awesome dan lebih kreatif dari sekedar yang telah dan sedang saya buat. Maka dari itu Mari, Mari kita bersama-sama menciptakan hal kreatif, keren, dan lainnya agar bisa membuat pendidikan di Indonesia lebih baik lagi.

Daus Gonia, Pendidik Kurang Ngajar.

  • 7 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
← Previous • Next →

About

Cacatan ini dibuat dengan beberapa bahan dasar imajinasi, Keseharian, nikotin, pola pikir, alur kebaikan, Imaji dan nasi.

Twitter

loading tweets…

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr